Tampilkan postingan dengan label Pendidikan dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Guru dan Semangat

Guru dan Semangat

Program Guru Belajar Multi Seri | seri semangat guru kemampuan nonteknis  dalam adaptasi teknologi

BANYAK tokoh pemikir di dunia telah mencoba untuk mendefinisikan siapa itu manusia. Kita mulai saja tokoh yang hidup di era Yunani Kuno, Aristoteles, yang berpendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang mempunyai daya pikir. Lalu, ada Ernst Cassirer, seorang figur filosofis dari Jerman yang hidup di pertengahan abad ke-20, ia ikut memberikan pendapatnya tentang siapa manusia. Dalam pandangannya Ernst Cassirer, manusia merupakan hewan yang mampu berabstraksi dan menciptakan simbol. Berbekal kemampuan itulah  yang membuat  manusia berbeda dengan hewan; membuat manusia mampu berkomunikasi, membuat manusia mampu mengapresiasi nilai keindahan dan mampu mengembangkan  ilmu teknologi dan pengetahuan

Remaja & Jebakan Kecantikan Semu [Teras emsyawall]


Saat ini penampilan fisik kerap kali menghantui remaja. Bahkan membuat mereka terjerumus ke dalam penyakit mental yakni; insecure atau perasaan minder. Padahal, fisik tiap individu manusia itu sudah di-setting secara default oleh Sang Pencipta dengan standar kecantikan dan keunikannya tersendiri.

Beberapa pekan lalu, saya menerima keluhan dari seorang anak didik berinisial Bunga. Kepada saya Bunga mengaku seringkali dihinggapi oleh perasaan minder dengan penampilannya.

Ia melihat teman-temannya lebih cantik dari dirinya. Bunga melihat temannya lebih percaya diri karena dianugerahi kecantikan yang luar biasa. Mereka memiliki warna kulit putih bening, tinggi maksimal, kurus, dan juga pintar. Bunga ingin seperti teman-temannya. Dia tidak nyaman dengan kondisinya saat ini.

Apa yang dialami oleh Bunga, saya yakin, bukanlah sebuah masalah sepele. Ada banyak sekali Bunga di daerah lain yang memiliki persoalan serupa yakni; insecure. Memang perasaan minder pada anak kerap muncul saat rasa syukur atau afirmasi terhadap penampilan fisik yang dimiliki tidak sesuai dengan keinginannya.


Ditambah lagi dengan konsumsi media sosial yang tak terbendung oleh si anak. Kondisi ini diperparah karena remaja masih masuk kategori usia labil, mudah sekali terpengaruh dengan perubahan di sekitarnya.

Remaja kita saat ini dihadapkan oleh promosi produk kecantikan oleh industry. Setiap hari mereka “diserang” oleh tawaran produk yang diklaim bisa mengubah arang menjadi salju. Remaja kita terjebak di dalamnya.


Derasnya “kampanye” untuk mengutamakan penampilan fisik dengan indikator tertentu, seperti harus putih bening, berhidung mancung, kurus atau lain sebagainya, secara langsung membuat anak atau remaja mengukur kecantikan dengan semua indikator tersebut. Sehingga ketika didapati hasil yang tidak selaras dengan indikator semu tersebut, mereka tidak percaya diri dengan standar fisik yang dimilikinya.

Konon lagi, dengan kemajuan teknologi internet yang menghadirkan sesuatu sesuai dengan algoritma. Maka gempuran produk kecantikan hasil produksi industri yang menjanjikan kecantikan semu nan palsu, mengalir deras bak air bah. Tidak ada yang bisa membendungnya.

Majaila dan Pehkonen mengungkapkan bahwa (dalam juliana dan surya, 2017) menyebutkan,“selfconfidence another variable that seems to be an important predictor for future development.” Artinya percaya diri merupakan suatu variabel lainnya yang tampak menjadi prediktor penting untuk pengembanggan masa depan.

Sebanding dengan itu,Yoder dan Proctor (dalam Rahayu, 2013) mengungkapkan bahwa, anak-anak yang dapat dikatakan memiliki kepercayaan diri tinggi adalah jika anak tersebut aktif namun tidak berlebihan, tidak mudah terpengaruh dengan orang lain, mudah bergaul, berpikir positif, penuh tanggung jawab, energik, dan tidak mudah putus asa, dapat bekerja sama, serta mempunyai jiwa pemimpin.

Terkait dengan hal tersebut, tentunya sebagai orangtua dan pendidik (perpanjangan tugas orangtua dalam keluarga)  guru harus turun tangan untuk segera mencari solusinya.

Keluarga di rumah seyogyanya menyediakan waktu untuk duduk bersama dengan anak untuk mendiskusikan dan merumuskan apa saja informasi yang dirasa keliru atau belum sewajarnya diterima oleh anak. Apa lagi ibu, sebagai orangtua yang sangat dekat dengan anak secara emosional memiliki pengaruh besar dalam pembentukan mental yang tangguh dalam diri anak.

Anak yang insecure dalam artian tidak memiliki rasa percaya diri sejak kecil, cenderung menjadi anak berperasaan negatif seperti pemalu, pendiam, dan kesulitan untuk bergaul hingga ia dewasa.

Menurut (Hendra, 2007) perasaan negatif yang tidak ditanggulangi sedini mungkin, dapat berpengaruh terhadap kepribadian anak. Hal ini membuat anak tidak cakap untuk bersosialisasi maupun mengaktualisasikan segenap kemampuannya, minim inisiatif, tidak punya keberanian menghadapi tantangan baru dan hidup yang serba tergantung pada orang lain hingga usianya dewasa.

Oleh karena demikian, problem insecure pada anak dan remaja harus ditangani sedini mungkin oleh orangtua. Sebelum berefek yang lebih panjang pada perkembangan si anak, mengingat rasa minder akan semakin tinggi seiring dengan bertambahnya usia anak.

Satu lagi yang perlu dipahami oleh orangtua dan guru di sekolah. Bahwa minder pada anak bisa diminimalisir dan hilang bila orangtua dan guru sering memuji anak. Dengan demikian, janganlah sungkan dalam memberikan apresiasi kelebihan si anak atau keberhasilan anak. Karena melalui cara yang demikian anak merasa bangga dengan dirinya dan kemudian (harapannya) tersemai mental yang sehat dalam menilai dirinya.

Akhirnya, kita semua tidak akan mampu membendung “serangan” industri, yang setiap hari menggempur remaja kita dengan produk-produk yang menjanjikan kecantikan instan sesuai dengan konsep kapitalisme pasar bebas.

Seperti yang saya sampaikan di atas, hal-hal kecil, dan berdampak besar dapat kita lakukan demi menyelamatkan para remaja, agar mereka dapat bertahan dari gempuran pasar, dan menjadi sosok berkualitas di masa depan.

***

Sudah tayang di Komparatif.id

Boh Meuria; Buah Tangan dari Meulaboh yang Semakin Langka


ADALAH kurang lengkap bila kita bepergian ke suatu tempat, tetapi tidak tidak membawa pulang buah tangan yang menjadi kekhasan dari tempat tersebut. Bila kita bepergian ke Sabang, misalnya, maka wajib bagi kita sepulang dari sana membawa pulang buah tangan berupa Bakpia Sabang atau Dodol Khas Sabang. Lalu kita pergi ke Langsa, mesti pula membungkus pulang barang satu kilogram atau dua kilogram Terasi Langsa.

Semua daerah tentu punya kekhasan sendiri, baik dari segi kuliner, artefak, atau semacamnya yang menjadi simbol untuk dijadikan sebagai buah tangan yang juga memberikan penanda bahwa kita; sudah melintasi tempat tersebut.

Seperti halnya kami yang bepergian ke Aceh Barat beberapa waktu lalu. Sepuluh hari kami di sana, dalam rangka melakukan visitasi terhadap calon siswa penerima beasiswa dari PT. MIFA dan PT. BEL untuk bersekolah di institusi kami, Sekolah Sukma Bangsa Pidie. Kami berkeliling di wilayah Aceh Barat mulai dari kota dengan jalannya yang beraspal, hingga ke pelosok desa dengan jalan yang berkerikil dan menjumpai lobang-lobang bekas genangan air kala hujan seperti tertata di Lintasan. Ironisnya, tidak satupun kami temui jajanan berupa buah Rumbia (Aceh; Boh Meuria) yang sedianya mau kami beli dan cicipi dalam proses kunjungan dari satu desa ke desa lainnya. Meski tak bisa ditampik, kebun Rumbia, tak susah untuk kita temui karena masih terlihat di banyak tempat di Pedalaman Meulaboh.

Melihat realitas yang demikian, tentu tidak salah bila kita berkesimpulan, bahwa Boh Meuria, yang dalam bahasa latinnya dikenal dengan Metroxylon sagu, merupakan satu dari beberapa jenis buah-buahan kian langka di Aceh. Sudah sangat jarang kita temui orang menjajakan Boh Meuria baik di pasar wilayah perkotaan maupun di pasar di perkampungan-perkampungan.

Rumbia merupakan jenis tumbuhan yang tumbuh dengan bagus di daerah yang memiliki lahan gambut, rawa-rawa, atau lahan yang tergenang di mana tumbuhan lain susah untuk tumbuh. Oleh karena demikian, di beberapa wilayah yang rawa-rawanya banyak, maka Rumbia membentuk kebun atau semacam hutan sagu.

Di Aceh, daerah penghasil buah rumbia yang sudah sangat terkenal tak lain dan tak bukan adalah Meulaboh, Aceh Barat. Karena itu pula, berbicara tentang Boh Meuria maka yang teringat adalah kota meulaboh.

Meulaboh, memang terkenal sebagai wilayah penghasil Boh Meuria. Namun demikian, pasca Tsunami 2004, Boh Meuria mulai disadari oleh orang-orang akan kelangkaannya yang belum teratasi. 

Ada banyak pohon Rumbia di Meulaboh, tapi sayangnya yang menghasilkan buah semakin sedikit. Fakta ini sangat jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelum Tsunami, yang Boh Meuria Meulaboh bisa “diekspor” hingga ke kabupaten-kabupaten tetangga.

“Boh Meuria eksistensinya semakin kesini makin redup saja,” ucap salah satu rekan kami yang ikut menjelajah wilayah Meulaboh.

Cerita dari Penjaja Boh Meuria

Keinginan kami untuk membawa pulang buah tangan, berupa Boh Meuria dari Meulaboh, hampir saja terwujud. Kami menemukan penjaja Boh Meuria di Pasar Tradisional pinggir jalan Nasional, dan masih dalam kawasan wilayah Aceh Barat. Tepatnya di Desa Peuribu, Kecamatan Arongan Lambalek.

Namun demikian, sayangnya, kami tidak dapat membawa pulang buah tangan tersebut. Karena belum “di peujruek” dan khawatir bila tidak langsung memakannya, maka Boh Meuria tersebut keburu busuk dalam perjalanan pulang kami ke Pidie, yang harus singgah di Kabupaten Aceh Jaya untuk beberapa malam.

Cerita dari pedagang yang kami datangi, Boh Meuria merupakan bagian dari “buah tangan” yang sangat diminati dan dicari oleh setiap orang yang singgah di kios buah yang ia buka. Selalu saja ada orang yang singgah membelinya. Hingga Boh Meuria yang ia impor dari Sinabang laris manis saban harinya.

Ia menambahkan, Boh Meuria yang ia jajakan itu dijual dengan harga kisaran 50 ribu per kilogram. Katanya, harga itu masih murah, karena kalau sudah diasinkan bisa lebih mahal lagi. Tidak perlu menunggu hingga satu pekan Boh Meuria itu sudah habis dibeli oleh setiap pelancong atau orang yang melintasi wilayah pantai barat selatan. Bahkan salah satu dari rombongan kami mengeluarkan celetukan, “Sudah mahal boh meuria ketimbang buah salak, ya!”

Buah rumbia agak mirip dengan buah salak, dan dulu harga buah salak lebih mahal ketimbang buah rumbia,  bedanya sekarang kalau buah rumbia sisik buahnya agak besar, dan rasanya kelat, tapi kalau sudah tua rasa kelatnya sedikit hilang dan mulai rasa yang manis.

Sementara cara menikmatinya mudah sekali bisa dimakan langsung, seperti kita menyantap buah pada umumnya, yang hanya membersihkan kulitnya lalu makan buahnya, atau bila ingin lebih nikmat Boh Meuria diasinkan dan juga “di peujruek” agar rasa kelatnya hilang.

Makan Menggunakan Pacuk Bambu

Teringat dulu masa kami kecil dalam menikmati Boh Meuria. Kami tinggal salah satu desa di Pidie, kebetulan sekitaran desa kami juga memiliki kebun Rumbia. Oleh karena demikian, masa kecil kami juga punya cerita yang unik dengan Boh Meuria.

Jadi, singkat saja, kami makan Boh Meuria adalah dengan cara menumbukkannya. Tempat tumbuknya bukan di Ceprek, melainkan dalam pacuk --terbuat dari bambu, di dalamnya kami bubuhkan bumbu semacam asam sunti, gula, dan juga pucuk daun kedondong agar rasa manis dari saripati daun Kedondong dapat mengalahkan rasa kelat pada Boh Meuria. Daun kedondong, pucuknya, emang diyakini bermanfaat dan punya nilai guna dalam menetralkan rasa yang tidak stabil pada sebuah objek makanan.

Di Pidie, memang, dulu mudah juga dijumpai buah rumbia, meski tidak semelimpah di Meulaboh. Namun entah apa penyebabnya buah rumbia di Pidie sudah jarang sekali didapatkan di Pasar, bahkan tidak ada lagi.

Punya Segudang Manfaat

Pohon Rumbia sudah dimanfaatkan oleh masyarakat terutama daunnya sebagai atap, buahnya sebagai antidiare dan batangnya sebagai sumber karbohidrat (Hasyim, 2016).

Di Indonesia, khususnya masyarakat Aceh, sebelum masuknya obat-obat modern, masyarakat menggunakan Boh Meuria sebagai bagian dari pengobatan tradisional. Sehingga di Aceh dikenal obat diare paling ampuh dan manjur itu, tak lain dan tak bukan, adalah Boh Meuria.

Berbagai penelitian membuktikan, bahwa boh meuria memiliki segudang manfaat bagi kesehatan. Sebagaimana hasil temuan dalam penelitian Dewi Isnaini, dkk dan dimuat di majalah Farmasi Universitas Indonesia Timur Makassar , bahwa ekstrak daging buah rumbia ternyata dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.

Buah rumbia merupakan salah satu tanaman yang mengandung tanin. Tanin memiliki rasa sepat dan bersifat sebagai astringent dimana zat ini dapat meredakan diare dengan menciutkan selaput lendir sehingga menghambat sekresi jaringan.

Sayangnya buah ini sudah sangat langka untuk dimanfaatkan kandungannya, meski kita pergi mencari ke lumbung penghasilnya, yakni Aceh Barat. Tentu kita berharap, agar para sarjana pertanian yang ada di wilayah setempat atau Aceh secara umum meneliti ihwal penyebab pohon Rumbia yang semakin susah berbuah, hingga menjadikannya langka. Dengan demikian, diharapkan, nantinya kalau sudah ada penelitian, akan ada sebuah formula untuk memberdayakan Pohon Rumbia agar terus menghasil buahnya yang memiliki banyak manfaat itu.

Mudah-mudahan saja, Boh Meuria ini tidak menjadi buah mitos di masa akan datang, dan masih bisa dinikmati kekhasan rasanya sama anak-anak dan generasi kita. Meskipun, “buah-buahan kota” sudah masuk dan menggempuri pasar-pasar tradisional kita. Nyanban

*

Artikel ini sudah tayang di Serambi Indonesia


Menumbuhkan Empati pada Anak {Teras Emsyawall}

BELAKANGAN ini sering kita jumpai fenomena di mana hilangnya empati pada generasi muda kita.

Mengeluarkan sumpah serapah di ruang publik, berkata kotor atau kasar terhadap temannya, membuang sampah sembarangan, marah ketika ditegur, apatis terhadap orang sekitarnya, dan beragam macam perilaku lainnya yang mengganggu kenyamanan dan merugikan orang lain.

Perilaku-perilaku tersebut merupakan gambaran sikap generasi muda kita yang jauh dari empati.



Apa itu empati?

Empati merupakan kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain, sehingga kita mampu mengolah rasa untuk memahami apa yang dirasakan orang lain dan menyelaraskan dengan perilaku.

Mengajarkan empati pada pada generasi muda, yakni anak-anak kita, merupakan sebuah kemestian yang penting adanya.

Karena, hal tersebut dapat membantu mereka dalam bersosialisasi dengan orang lain dan lingkungan sekitar.

Hal ini terlihat dari hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari berbunyi, “Kal bunyanin yasuddu ba’dhuhu ba’dhan”. Mencermati isi hadis ini maka dapat kita pahami bahwa kita dengan orang sekitar adalah satu dan tak terpisah laiknya bangunan; satu sama lain saling mengokohkan.

Nah, beragam penelitian yang mengkaji tentang perilaku anak menyimpulkan bahwa empati merupakan salah satu sikap yang mesti dimiliki anak, karena membantu mereka dalam membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat dan damai dengan anak-anak seumurannya.

Anak yang memiliki sikap empati akan jauh dari emosi negatif yang biasanya kompleks, seperti muak, sombong, dan marah, karena ia mampu merefleksikan diri dan memahami situasi dan kondisi orang lain.
Hal yang demikian akan membuat anak cenderung lebih disukai oleh teman-teman sejawatnya dan orang lain di sekitarnya.

Kita sungguh tak sanggup membayangkan jika anak tumbuh tanpa ada rasa empati, karena hal itu menyulitkan mereka dalam berteman, seperti dijauhi atau tidak disukai oleh teman-temannya.

Bila hal demikian dirasakan oleh seorang anak, tentu yang terjadi kemudian adalah munculnya perasaan teralienasi (terasing) dari lingkungan sekitarnya.

Sehingga kelak, ketika ia dewasa, selain menjadi manusia yang apatis, ia juga menjadi manusia yang lebih mudah stres, depresi, dan mudah putus asa.

Oleh karena itu, mengajarkan empati pada anak sama halnya dengan memberikan modal sosial yang berharga bagi mereka yang dapat dipakai hingga umurnya menua, yang juga dapat mengantarkan mereka menjadi manusia yang saleh dari segi individualnya dan saleh dari segi sosialnya.

Lalu, bagaimana menumbuhkan empati pada anak?

Rasa empati tidaklah muncul atau bawaan dari lahir.
Empati muncul seiring proses perkembangan dan perjalanan manusia dalam bersosialisasi di lingkungan sekitarnya.

Oleh sebab itu, menumbuhkan empati pada diri individu manusia membutuhkan waktu yang lama.

Ini karena, empati merupakan sikap yang dibentuk dan dipelajari lalu diaktualisasikan dalam kehidupan keseharian anak manusia. Terdapat segudang cara dalam menumbuhkembangkan empati pada anak.

Namun demikian, saya menyarikan dari ragam cara itu terdapat dua cara yang efektif.

Pertama, memberikan buku bacaan atau cerita yang membangun nilai empati.

Diakui atau tidak, melalui bacaan buku, cerita yang memungkinkan anak masuk dan memahami karakter ikon dalam ceritanya.

Juga dengan menonton film yang mengandung nilai sosial kemanusiaan dapat mendorong dan menumbuhkan sikap empati pada anak.

Berkaca dari pengalaman saya ketika mengajar, sering kali sebagai ‘reward’ pada mereka yang sudah mengikuti penilaian ulangan misalnya, saya ajak mereka untuk menonton film yang sudah saya seleksi sedari awal dan khusus di dalamnya mengajarkan tentang pentingnya berempati.

Setelah menonton film tersebut, saya berikan tugas sebagai bagian refleksi dari kegiatan menonton tersebut. Ternyata, ada perubahan pada mereka tentang bagaimana berempati terhadap sesamanya.
 

    Baca juga: Remaja dan Kecantikan Semu


Sehingga, kelas yang dulunya diisi oleh ocehan dan celotehan tidak beraturan –yang kemungkinan menyinggung perasaan sesama mereka seperti yang arahnya bullying--secara berangsur-angsur berubah menjadi kelas yang aman, damai, dan harmonis.

Kedua, bertamasya ke kampung sekitar. Cara yang kedua ini lebih efektif ketimbang yang pertama.

Cara inilah yang dilakukan secara berpola oleh Sekolah Sukma Bangsa Pidie dalam  menumbuhkembangkan rasa empati pada anak baik yang sedang belajar di level SD, SMP, maupun SMA.
Cara ini dapat Anda teladani dan selanjutnya Anda aplikasikan pada keluarga --khususnya yang sudah berkeluarga dan memiliki anak--ataupun pada komunitas Anda yang di dalamnya berhubungan dengan anak-anak seperti PAUD, TK, hingga SMA.

Ya, sebagai perpanjangan tangan dari orang tua anak, kita yang sudah mendedikasikan diri sebagai pendidik penting mengajak anak didik kita untuk berwisata pada kampung-kampung di lingkungan sekolah, yang di kampung tersebut terdapat keluarga-keluarga yang hidupnya masuk dalam kategori ekonomi kelas bawah atau termarginalkan.

Saat mendapati keluarga miskin tersebut--melalui arahan guru--mereka memberikan paket sembako yang dibeli sendiri oleh mereka dari hasil uang yang dikumpulkannya pada hari Jumat di setiap pekannya.

Acap kali, para orang tua yang mengerti kegiatan ini memberikan sumbangan yang lebih melalui anaknya.
Nah, dalam kegiatan tamasya tersebut, anak akan melihat sendiri realitas kehidupan di lingkungan sekolahnya, yang jauh berbeda dengan mereka.

Sehingga, dari kegiatan tersebut, terpatri sikap empati pada anak untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Program ini ternyata manjur bagi pertumbuhan rasa empati pada anak.

Hal ini terbukti, tanpa dipaksa si anak dengan sendirinya menyisihkan uang jajannya untuk bersedekah dan menyumbang pada setiap kegiatan amal, seperti ketika terjadi banjir di Tangse, gempa Pidie Jaya, erupsi Gunung Semeru, dan beragam bencana atau musibah lainnya, baik di daerah sendiri maupun di luar Aceh.

Pun kami sebagai guru yakin melalui kegiatan ini–tamasya ke kampung--dan melihat langsung orang-orang yang hidupnya di bawah garis kemiskinan, hati anak akan lebih mudah tersentuh sehingga ia menjadi lebih peduli baik kepada anggota keluarganya dan juga orang di sekitarnya.

Melalui reportase sederhana ini, saya berpesan dan mengajak kita semua, mari dedikasikan diri untuk lebih giat dalam menumbuhkembangkan empati pada generasi muda kita, anak-anak kita, guna tumbuh dan kuatnya karakter anak bangsa yang tidak hanya berintelektual tinggi, tapi juga berhati mulia. Nyan ban.



**
Tulisan ini sudah tayang di media Serambi Indonesia

Menyemai (kembali) Nilai-Nilai Multikulturalisme


INDONESIA ialah negara yang penuh dengan kemajemukan dari segi etnik, bahasa, dan agama. Keberagaman ini seperti pisau dengan dua sisi yang sama tajamnya. Di satu sisi, kemajemukan dapat dilihat sebagai berkah karena dalam pandangan agama ialah bagian dari sunnatullah, fitrah makhluk, terutama manusia, yang tidak mungkin seragam. Di sisi lain, keberagaman juga dapat menjadi sumber konflik sosial.
 
Keberagaman bisa menjadi bahaya dan malapetaka besar bagi keutuhan bangsa yang multietnik jika penduduknya memiliki pandangan bahwa kemajemukan ialah suatu hal yang harus dihindari, bahkan harus 'diseragamkan'. Jadi, kemajemukan ialah anugerah sekaligus musibah. Anugerah, bila kita mampu mengelola dengan baik, dan menjadi musibah apabila tidak mampu mengelola kemajemukan ini dengan baik. 
 

Bahasa Aceh Jeut Droen??

JUDUL tulisan yang tersebut di atas merupakan pertanyaan yang keluar dari mulut seorang laki-laki dalam sebuah potongan video ketika ia diminta pendapatnya oleh wartawan. 

Ya, dalam video yang beredar dan  viral beberapa pekan lalu di kalangan masyarakat Aceh, menampilkan seorang laki-laki, kisaran umur 60 tahun ke atas, dimana ia ditengarai sedang diwawancarai secara langsung oleh seorang wartawan. Wartawan tersebut menanyakan pendapatnya tentang musibah banjir dengan menggunakan bahasa nasional (bahasa Indonesia). Dan jawaban laki-laki tersebut adalah di luar dugaan kita semua. Bukanlah pernyataan-pernyataan sebagai jawaban untuk pertanyaan dari wartawan itu, malah ia menanyakan wartawan itu dengan bahasa Acehnya yang khas; "Bahasa Aceh jeut droen?"

Satu sisi, dan bagi sebagian orang mungkin menggangap, apa yang terlihat dari seorang kakek itu menunjukkan bahwa rendahnya skill berbahasa dari kakek tersebut. Dan dengan gayanya itu cukup memberikan kita hiburan. Meskipun besar juga keyakinan saya bahwa beliau mampu berbicara dan memahami bahasa nasional dengan baik.

Mari kita merenung sejenak, bila pertanyaan serupa itu ditanyakan pada kita, "Bahasa Aceh jeut droen?" Kira-kira apa yang akan kita jawab.

Sekilas pertanyaan itu memang sederhana, karena jawabannya pasti bermuara pada tiga sudut; jeut (bisa), kureung jeut (kurang bisa), hanajeut (tidak bisa). Namun demikian, bila direnung pertanyaan itu (meski tidak kasar) cukup untuk "menggampar" kita masyarakat Aceh, yang dewasa ini sudah kadung nyaman meletakkan bahasa nasional sebagai alat komunikasi utama dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan bahasa daerah, bahasa kita sendiri, sudah kita nomorduakan. 

Yang menyedihkan lagi, hari ini muncul semacam isme bahwa yang menggunakan bahasa Aceh itu kampungan, kuno, kulot atau istilah-istilah peminggiran lainnya. Padahal, bahasa Aceh merupakan bagian dari identitas yang tidak boleh disepelekan, yang terhubung dengan latar belakang kelompok, etnis, suku, dan budaya kita Aceh. Kenapa Aceh menarik dimata wisatawan asing? Salah satu sebabnya ialah karena Aceh kaya akan nilai budayanya, yang didalamnya termasuk karena memiliki bahasa yang khas. Sehingga itu pula yang menjadi cermin dan memantulkan ke dunia luar, tentang kita sebagai bangsa yang kaya akan budaya dan bahasa. 

Lalu pertanyaannya, apa yang menyebabkan eksistensi bahasa Aceh kian meredup?

Penulis melihat, setidaknya ada tiga faktor penyebabnya. Pertama, dikarenakan kurangnya peran para orang tua di Aceh dalam menggunakan bahasa Aceh di lingkungan keluarganya. Orang tua dirumah, mestinya mengajarkan bahasa pertama untuk anaknya yaitu bahasa Aceh, baru kemudian dituntut untuk bisa berbicara bahasa nasional, dan tidak boleh lupa juga mengajaknya untuk belajar bahasa Asing --bahasa yang seyogyanya nanti mampu menjembatani ia dalam aktivitas kehidupan dengan manusia di berbagai belahan dunia. 

Apalagi sekarang, kita sudah masuk dalam era globalisasi, bahasa yang digunakan oleh komunitas internasional adalah suatu kemestian untuk dipelajari. Dan bahasa daerah, bahasa Aceh, harus menjadi prioritas, karena itu yang akan menjadi karakter khas atau identitas kita.

Kedua, tingkat sosialisasi bahasa Aceh yang rendah di institusi pendidikan kita. Sejatinya, sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi harus memiliki sebuah mata pelajaran atau mata kuliah Bahasa Aceh yang arahnya adalah untuk melestarikan bahasa itu sendiri. 

Kemudian disamping itu, perlu juga dibuat sebuah kebijakan khusus agar tersedianya satu hari dalam setiap pekannya untuk para warga sekolah atau perguruan tinggi menggunakan bahasa Aceh. Dengan kebijakan demikian, kita yakin, kalau pun tidak sukses membumikan kembali bahasa Aceh sebagai bahasa keseharian masyarakat Aceh yang bermastautin di Aceh, maka setidaknya sudah membantu memperlambat kepunahannya.

Ketiga, kurangnya kesadaran masyarakat Aceh akan pentingnya berbahasa Aceh. Ya, masyarakat kita sebahagiannya sudah terbelenggu oleh isme, sebagaimana saya sebutkan di atas, berbicara dalam bahasa daerah terkesan kampungan. Bahkan, kita malu kalau diketahui menggunakan bahasa nasional dengan logat dan dialek Aceh yang medok.

Bersebab itu pula, dengan anggapan bahwa berbicara dan mengajarkan anaknya sebagai individu baru dalam masyarakat dengan bahasa nasional, itu bagai sudah menempatkan mereka pada kelas sosial modern, alias tidak kampungan. Stigma-stigma semacam itulah yang semakin menjauhkan bahasa Aceh dengan penggunanya.

Maka sebagai penutup, kembali ke pertanyaan tadi, bila pertanyaan itu ditanyakan kepada kita, dan bila pertanyaan itu ditanyakan pula pada anak-anak kita di 50 tahun kedepan. "Bahasa Aceh jeut droen?" mudah-mudahan jawabannya adalah, "mantong jeut!". 

Mari kita lestarikan lagi bahasa Aceh, sebagai bahasa keseharian yang akan kita gunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari dengan rasa yang bangga. Nyanban.

***
Artikel ini sudah tayang di media Gemarnews (https://www.gemarnews.com/2021/01/droen-jeut-bahasa-aceh.html)

Covid-19; Ujian Orang Tua di Masa Pandemi

Keluarga (orang tua) merupakan salah satu kelompok sosial yang sangat merasakan dampak dari pandemi Covid-19. Selama masa pandemi ini, terhitung sejak pertengahan Maret lalu atau seiring dengan turunnya surat dari Kemdikbud, yang berisi perihal pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah guna mencegah penyebaran Covid-19, semua orang tua dipaksakan untuk menyambung nafas pendidikan atau hak belajar anaknya dari rumah. Sekolah-sekolah tidak dibolehkan lagi melaksanakan pembelajaran secara tatap muka, semua lembaga pendidikan pun diperintahkan untuk menyelenggarakan pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Adanya PJJ praktis membuat para orang tua dilema; satu sisi mereka harus memenuhi tanggung jawab keluarganya untuk pemenuhan ekonomi keluarga, kemudian di sisi lain mereka juga harus menunaikan tugas keberlangsungan pendidikan untuk anaknya –yang selama ini dilimpahtugaskan ke sekolah-sekolah.

Adalah sebuah realitas yang tidak bisa dimungkiri, bila selama ini, pada sebagian besar orang tua terketam semacam pandangan bahwa pendidikan (aktivitas belajar) anak ialah tugas dan tanggung jawabnya para guru di sekolah. Padahal, aktivitas belajar anak adalah tanggung jawabnya para orang tua, yang dibantumaksimalkan oleh sekolah. Sebagaimana dikatakan oleh Jalaluddin Rahmat dalam bukunya berjudul Islam Aktual (1986) dari tujuh fungsi keluarga dalam masyarakat, salah satunya yaitu fungsi edukatif yakni keluarga (melalui orang tua) memberikan pendidikan untuk anak-anaknya. (Tujuh fungsi keluarga; fungsi ekonomis, fungsi edukatif (pendidikan), fungsi religius, fungsi sosial, fungsi rekreatif, fungsi proyektif, dan fungsi afeksi)

Oleh karenanya, bersandar dari yang dikatakan Jalaluddin Rahmat, tanggung jawab orangtua untuk mendidik anak tidaklah boleh dilepaskan begitu saja ke pundak guru-guru di sekolah.

Ujian Orang Tua

Persoalan baru yang mengemuka selama pandemi ini, dalam kaitan PJJ, adalah banyaknya keluhan –juga omelan- yang datang dari para orang tua menyasar para guru (sekolah). Banyak orang yang mengeluhkan sikap-sikap sang anaknya di rumah, yang tidak mau mengerjakan tugas, tidak mau ikut pertemuan tatap muka daring, lebih sibuk sama hal lainnya, dan lain sebagainya. Juga banyak orang tua yang dengan ocehannya mendiskreditkan para guru yang konon sudah memborbardir anaknya dengan tugas-tugas, yang jangankan anaknya, mereka saja tidak memahami bentuk tugas tersebut.

Tak ayal, para orang tua menuntut agar sekolah-sekolah dapat melaksanakan kembali pembelajaran sebagaimana normalnya. Di sini, seakan para orang tua tidak mau menggubris terhadap ancaman dari makhluk maha kecil bernama Corona yang sedang mengintai gerakgerik kita manusia. Sedikit saja lengah (lalai), maka ia akan dengan cerdasnya masuk ke tubuh kita, untuk melakukan mutasi diri, yang dalam prosesnya membahayakan organ-organ vital yang dimiliki tubuh kita, mulai dari pernafasan dan lain sebagainya.

Hakikatnya, jika kita mau sedikit merenung, adanya Covid-19 tak ubahnya sebuah ujian atau semacam challenge bagi para orang tua; seberapa efektif dan kreatifnya mereka dalam menjalankam fungsi keluarganya. Berhasilkah atau justru gagal.

Adanya Covid-19, merupakan peluang terbaik bagi orang tua untuk membangun quality time bersama anaknya. Khususnya bagi mereka yang selama ini menghabiskan waktunya dari pagi hingga sore untuk bekerja.

Pandemi, juga menjadi momen tepat bagi orangtua untuk lebih mengenal anaknya lebih dekat, termasuk cara belajar anaknya. Atau bahkan, ini bisa jadi kesempatan bagi orangtua untuk belajar bersama dan dari anaknya; ikut mempelajari hal-hal terbaru. Kalaupun ada banyak hal yang tidak diketahui, tidak perlu pula malu mengakui akan ketidaktahuan tersebut di depan anak. Justru nilai kejujuran, yang mestinya menjadi keharusan dalam setiap aktivitas itu, akan menjadi teladan bagi anak dalam keluarga.

Para orang tua, di masa pandemi ini, dapat duduk santai bersama sang anak dan bertanya seputar kegiatan mereka; apa yang mereka lakukan, bagaimana hasilnya, dimana kendalanya dan lain sebagainya.

Pertanyaan sederhana seperti itu akan menjadi vitamin terbaik bagi seorang anak untuk meng-upgrade dirinya dengan cara; belajar, belajar, dan belajar. Sejumlah studi, yang dengan mudah dapat kita baca di banyak media, memaparkan tentang adanya korelasi keberhasilan pendidikan anak dengan lingkungan keluarga yang harmonis, di mana para orang tua “masuk” dalam aktivitas belajar anaknya. Salah satunya melalui suntikan motivasi yang dengan mudah dapat diselipkan saat berinteraksi secara dekat dengan anaknya.

Pengertian Bersama

Pandemi Covid-19 merupakan masalah sosial yang benar-benar baru bagi kita. Di awal ada banyak pihak menyamakannya dengan wabah Ta’un Ija Brok (perpekstif orang Aceh), dan disebut juga dengan Black Dead (perspektif orang Eropa). Sekilas gejalany emang sama, namun dalam proses perjalannya kita lihat, Covid-19 ini (sekali lagi) benar-benar baru bagi kita

Menghadapi pandemi ini pun tidak boleh serta merta dipulangpikirkan pada pemerintah saja, atau oleh pemerintah membebankannya kepada masyarakat saja. Di sini butuh kerjasama dan perhatian bersama.

Dalam kaitan kesuksesan pendidikan di masa pandemi, atau PJJ, para orang tua harus bersinergi dengan para guru (sekolah) memastikan bahwa pemenuhan bak belajar anak terpenuhi. Tidak hanya dibebankan ke salah satu pihak; guru saja, atau orang tua saja.

Saya sangat salut ketika mendapati cerita beberapa orang tua, di mana mereka sampai harus menambahkan list tugas hariannya di rumah, yaitu menjadi guru bagi anaknya. Saya kira, orang tua semacam inilah yang mengerti peran dan tanggungjawabnya, dan juga mengerti akan seberapa besar ancaman yang sedang dihadapi.

Mudah-mudahan saja, wabah covid-19 segera menemukan ajalnya. Karena sebagai guru, saya juga sudah sangat rindu untuk melaksanakan pembelajaran secara langsung dengan anak didik saya, yang kakakternya sangat beragam itu. Hingga saya harus selalu mengingat akan prinsip yang saya pegang teguh sejak dulu; menjadi guru, su beuraya, saba beuleu (menjadi guru, suara harus besar, sabar harus banyak).

**

Artikel ini sudah tayang di media Ruang Redaksi. 

Quo Vadis Kupiah Tungkop (Kupiah Meukutop)

KUPIAH meukeutop menemukan momentumnya di tengah pandemik (Covid-19). Kupiah yang juga populer dengan nama kupiah Teuku Umar ini seketika menjadi fenomena di kalangan masyarakat Aceh. Bahkan, masyarakat Aceh yang menetap di tanah perantauan, baik yang berprofesi sebagai politikus, saudagar, atau sebagainya, ramai-ramai memakai kupiah meukeutop. Hal ini terlihat dari foto-foto yang bertebaran dan mereka pamerkan di akun sosial media. Belakangan, tagar #gerakansejutakupiahAceh pun menggema di lapak maya. Sejurus dengan itu, asal-usul kupiah Aceh pun mulai didiskusikan lagi, termasuk asal produsen kupiah meukutop yang hari ini menjadi trending.

Kupiah meukeutop merupakan ikonnya masyarakat Aceh. Pada kupiah meukeutop terdapat beberapa warna, yakni merah, kuning, hijau, putih, dan hitam. Semua warna tersebut terkandung makna tersendiri yang juga menjadi nilai bagi masyarakat Aceh. Merah melambangkan kepahlawanan, kuning melambangkan negara atau kerajaan, hijau melambangkan keagamaan, putih memiliki makna keikhlasan atau kesucian, dan hitam bermakna ketegasan hati.

Bila mengamati lebih detail, maka kita akan mendapati pada kupiah meukeutop ada sebuah lambang atau simbol yang berbentuk dan mirip dengan huruf hijaiah, yaitu huruf lam. Huruf lam tersebut terbentuk karena adanya empat tingkatan warna yang juga memiliki makna dan filosofi tersendiri. Tingkatan pertama bermakna hukum agama, tingkatan kedua bermakna adat, lalu tingkatan ketiga bermakna qanun, sedangkan tingkatan keempat bermakna reusam. Dengan demikian, melihat kupiah meukeutop sama halnya dengan melihat rambu-rambu kehidupan yang dimiliki oleh masyarakat Aceh, yang berpondasi pada; agama, adat, qanun dan reusam.

Asal Kupiah Meukeutop

Nah, karena kupiah meukeutop hari ini sedang menemui momentumnya, maka mengulas tentang kupiah meukeutop menjadi semacam kemestian. Terlebih, sebagian orang memiliki pendapat, yang menurut penulis, keliru dalam melihat kupiah meukutop.

Kupiah meukeutop sudah dikenal semenjak zaman kolonial Belanda, dan dipakai oleh banyak tokoh Aceh kala itu. Namun, kupiah meukeutop menjadi populer semenjak dipakai oleh Teuku Umar, hingga kupiah meukutop juga disebut sebagai kupiah Teuku Umar oleh beberapa kalangan.

Karena Teuku Umar lahir di Meulaboh, Aceh Barat, kupiah meukutop pun disimpulkan sebagai kupiah yang berasal dari Meulaboh. Oleh tokoh-tokoh Meulaboh mendirikan beberapa tugu yang berbentuk dan didekor mirip dengan kupiah meukutop, dan ini menjadi semacam penegasan oleh masyarakat di sana bahwa kupiah tersebut berasal dari dan milik masyarakat Meulaboh.

Konon, yang menjadi tanda tanya, ternyata tidak satu pun dari warga Meulaboh yang memiliki skill dalam membuat kupiah Meukeutop. Bahkan, beberapa tahun lalu pengrajin Meulaboh dilatih cara membuat kupiah meukutop oleh dinas terkait di Aceh yang mentornya diundang khusus dari Pidie.

Jika ditelisik asal-usulnya, memang berat dugaan penulis, muasalnya kupiah meukutop tersebut bukanlah dari Meulaboh, Aceh Barat, melainkan dari Pidie tepatnya dari Gampong Rawa Tungkop. Ini terlihat dari keahlian dalam membuat kupiah tersebut hanya dimiliki oleh perempuan-perempuan di Gampong Rawa Tungkop, hingga kupiah-kupiah meukutop dan sejenisnya diproduksi secara handmade oleh mereka.

Salah seorang pengrajin yang juga menjadi tetua di Tungkop, menuturkan kepada penulis, bahwa ketika Aceh berjuang melawan bangsa Kolonial Belanda tempo dulu, saat itu, Teuku Umar yang menjadi pemimpin dari perlawanan tersebut pernah singgah di beberapa daerah di Pidie, dan salah satu daerah yang sempat beliau singgahi ialah Gampong Tungkop.

Saat sedang berada di Tungkop itulah, Teuku Umar berjumpa dengan salah seorang pengrajin kupiah, yang kemudian barangkali karena kagum dan sebagai bentuk dukungannya terhadap aktivitas suci yang dilakukan oleh Teuku Umar, pengrajin tersebut menghadiahkan satu kupiah sebagai penutup kepala kepada Teuku Umar. Kupiah tersebut diyakini oleh banyak kalangan, tak lain dan tak bukan, yaitu kupiah meukeutop.

Baca juga: Empieng Breuh

Perajin yang penulis temui juga mengatakan, awalnya kupiah meukutop diberi nama dengan kupiah Tungkop. Ini merujuk pada seni dan kerajinan tersebut yang lahir dan dimiliki oleh hanya warga Tungkop saja. Namun, sayangnya, seiring dengan perjalanan waktu, kupiah Tungkop mendapat pergeseran dari masyarakat Aceh. Namanya yang dulu kupiah Tungkop belakang berubah menjadi kupiah meukeutop. Melihat narasi yang disampaikan oleh perajin kupiah Meukutop ini, penulis menyakini bahwa asal-usul kupiah meukutop ialah dari Pidie.

Meski demikian, tabir tentang asal-usul kupiah meukutop perlu dikaji lebih dalam guna meluruskan pendapat-pendapat yang berseliweran tentang kupiah tersebut. Hal ini perlu dilakukan supaya generasi Aceh di masa sekarang dan di masa akan datang memiliki benang merah dalam melihat kupiah meukeutop.

Dilema Perajin Tungkop

Beberapa pekan belakangan ini, atau seiring dengan viralnya kupiah meukutop yang dipakai oleh banyak masyarakat Aceh sekarang, para perajin di Tungkop yang membuat kupiah tersebut secara handmade mulai merasakan dampaknya. Kini, pesanan kupiah yang mereka terima tidak lagi sebanyak dulu. Terlebih harga untuk satu kupiah meukutop yang mereka tawarkan terkesan lebih mahal ketimbang kupiah meukutop yang viral akhir-akhir ini.

Kupiah tungkop asli product handmade

Padahal, jika melihat proses pembuatan kupiah meukutop secara handmade, yang membutuhkan waktu 4-6 hari untuk satu kupiah, harga yang mereka tawarkan tergolong sangat murah. Ya, mereka menjual kupiah tersebut kisaran harga kurang lebih Rp300-an ribu. Sementara kupiah meukutop yang booming hari ini, dengan mudah bisa didapatkan di pasar dan dibanderol dengan harga cukup murah, yakni Rp50-100an ribu.

Jika melihat realitas pasar yang demikian, tentunya para perajin kupiah meukutop versi handmade cenderung berada pada pihak yang dirugikan. Namun, apa hendak dikata, dalam mekanisme hukum pasar yang memiliki modal dan alat produksi yang canggih serta mampu menghasil produk dengan harga yang murah maka dia yang menang, dan ke situ pula para pembeli bermuara. Ya, kupiah meukeutop yang beredar banyak di kalangan masyarakat Aceh sekarang diproduksi dengan mesin, konon produsennya ada yang berlokasi di Aceh Utara dan ada juga yang berlokasi di Surabaya.

Tentunya, dan penulis memiliki pandangan, bahwa Pemerintah Kabupaten Pidie yang menjadi satu-satunya tumpuan harapan masyarakat Pidie, khususnya perajin Tungkop, tidak boleh abai dalam melihat realita ini. Pemerintah Kabupaten Pidie melalui dinas terkait perlu hadir ke lingkungan para perajin kupiah meukutop di Tungkop. Agaknya, Pemerintah Pidie juga perlu memberikan semacam “penegasan” untuk pasar bahwa nilai seni pada kupiah meukeutop merupakan warisan sosial masyarakat Pidie, tepatnya warisan perajin di Tungkop.

Dengan demikian, sudah sewajarnya untuk kupiah meukeutop ada semacam hak paten yang diperuntukkan kepemilikan pada perajin di Tungkop. Dengan begitu, siapa pun atau produsen mana pun yang memproduksi kupiah meukutop maka para perajin di Tungkop juga mendapat “syufu’atnya”. Dan di samping itu, para perajin juga perlu dimotivasi agar tidak patah hati dalam mengadapi pasar kupiah meukutop. Mereka harus didorong agar tetap konsisten dalam membuat kupiah meukutop, yang tak lain merupakan kupiah warisan raja di raja. Nyanban!

***

Artikel ini sudah tayang di Acehtrend dengan judul 'Quo Vadis Kupiah Meukutop'

Empieng Breueh, Kuliner Tradisional Pidie yang Sudah Tergerus Zaman

TAK bisa dimungkiri bahwa Pidie merupakan salah satu kabupaten di Aceh yang semakin banyak dieksplore sehingga makin banyak melahirkan kekaguman. Tidak hanya bagi orang yang lahir dan bermastautin (bermukim) di Pidie, tapi juga bagi orang luar Pidie.

Diakui atau tidak, wilayah bekas Kerajaan Pedir ini menyimpan banyak sekali warisan sosial atau khazanah kebudayaan, seperti di bidang olahraga tradisi ada geudeu-geudeu, di bidang pertanian ada yok creuh dan langai, serta beragam warisan sosial lainnya.

Dan yang membuat kita semakin kagum pada Pidie ialah tersedianya banyak penganan tradisional yang juga menjadi kuliner khas orang Pidie. Sebut saja apam, siapa yang tidak mengenal apam? Semenjak puncuk kepemimpinan Pidie dipegang oleh Roni Ahmad atau Abusyik, eksistensi penganan tradisional yang satu ini menjadi semakin melangit. Meskipun tak bisa ditolak juga fakta lainnya: apam sering diplesetkan oleh banyak orang dengan sesuatu yang berkonotasi negatif.

Selain apam, di Pidie juga terdapat kuliner tradisional lainnya yang juga khas, yakni empieng breuh (emping beras). Empieng breuh tidaklah sepopuler apam, tapi sampai kini ia masih diproduksi dan dijajakan di pasar-pasar tradisional.

Saya yakin, generasi Pidie sekarang, dan generasi Aceh secara umum yang lahirnya di atas tahun 2000 tidak banyak yang tahu mengenai kuliner bernama empieng breuh. Jikapun hendak dikumpulkan secara acak, misalnya sebanyak 20 orang saja, maka bisa dipastikan 80 persen lebih tidak akan ada yang mengenal empieng breuh.

Empieng breuh  terbuat dari bahan baku, yaitu beras yang kemudian diproses dengan cara ditumbuk. Untuk menikmatinya bisa dilakukan dengan cara menambahkan gula pasir yang dicampur dengan parutan kelapa atau bisa juga langsung dinikmati begitu saja. Rasanya sangat renyah, apalagi yang baru siap diproduksi.

Di berbagai warung kopi yang ada di pelosok Pidie, misalnya di kampung-kampung yang agak pedalaman, empieng breuh masih agak mudah dijumpai. Banyak pemilik warung kopi yang menjadikan empieng breuh sebagai bagian dari varian khas minuman di warungnya. Ya, empieng breuh memang sangat nikmat bila disantap dengan pisang thok, yaitu pisang yang sudah dihaluskan dengan cara ditumbuk pakai tulang daun pisang. Selain itu, empieng breuh juga tak kalah nikmatnya bila ditaburkan ke dalam kuphi boh manok.

Punya nilai sejarah

Sedih memang membayangkan eksistensi empieng breuh  yang makin ke sini kian terpinggirkan. Padahal, emping yang satu ini memiliki nilai filosofis dan sarat nilai sejarah.

Konon, saat Aceh masih dalam masa perjuangan ketika melawan kolonial Belanda yang saat itu mereka sangat bernafsu untuk menguasai hasil alam Aceh, orang-orang Aceh yang terlibat dalam pergerakan perjuangan tersebut selalu membawa bekal makanan yang salah satunya adalah empieng breuh. Sama seperti kebiasaan para pejuang Aceh membawa lauk berupa keumamah (ikan kayu) ke hutan saat bergerilya.

Empieng breuh menjadi sumber amunisi energi mereka, saat lapar dalam pergerakan dari satu daerah ke daerah lainnya. Mereka, para pejuang mengganjal perutnya dengan empieng breuh saat bersembunyi dalam hutan dari kejaran marsose Belanda.

Lalu, kenapa empieng breuh jadi pilihan? Ini karena empieng breuh yang berbahan baku beras memiliki kandungan nutrisi tinggi dan ringan untuk dibawa-bawa. Tak hanya itu, empieng breuh itu awet, bisa disimpan dalam waktu yang lama meski tanpa pengawet.

Makanya, sebagai orang Pidie dan orang Aceh tentunya, kita patut menjaga eksistensi emping  yang legendaris ini. Hanya dengan cara itulah, secara tidak langsung, kita sudah merawat ingatan akan perjuangan para pendahulu kita dalam melawan para penjajah.

Kita patut bangga sekaligus bersyukur atas kegigihan pejuang Aceh dulu. Berkat dedikasi mereka, Aceh menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak berhasil dikuasai dan dijajah Belanda. Bahkan, salah satu panglima angkatan perang Belanda yang sangat terkenal dengan kepiawaiannya dalam menyusun taktik dan strategi perang, Johan Herman Rudolf Kohler, menemui ajalnya di Aceh.  Dalam satu kesaksian, menjelang napas terakhirnya, Kohler sempat berucap; “O, God, ik ben getroffen!” (Ya, Tuhan, aku tertembak.)

Upaya melestarikannya

Sangat disayangkan bila menilik fakta hari ini di mana empieng breuh semakin dilupakan seiring dengan masuknya penganan-penganan dari luar yang berdimensi global. Generasi sekarang malah terkesan turun derajatnya atau kuno bila mereka terlihat doyan dan menikmati empieng breuh. Sedangkan bila terlihat doyan dalam menikmati penganan semisal pizza dan spaghety, seolah derajatnya terangkat atau dicap manusia modern.

Menyalahkan masuknya penganan luar sebagai penyebab terpinggirkannya empieng breuh tentu bukan sebuah alasan yang logis. Hal ini karena era globalisasi merupakan sebuah kemestian sebagai bagian dari perubahan sosial yang tidak bisa dihindari.

Namun demikian, kini yang perlu kita cari adalah upaya untuk melestarikan empieng breuh, sebagai kuliner tradisional Pidie agar eksis lagi. Saya sebagai orang Pidie memiliki pandangan bahwa Abusyik merupakan bupati yang punya ambisi dalam menyelamatkan kuliner tradisional. Seperti halnya apam, di bawah kemudi Abusyiklah namanya kian terangkat seiring dengan adanya acara kenduri apam yang diselenggarakan tiap tahun.

Nah, untuk ke depan, saya kira, di Pidie perlu dibuat semacam pameran kuliner tradisional Pidie yang dalam acara tersebut memuat informasi seputar kuliner tradisional Pidie seperti empieng breuh, beureune, haluwa bluek, meuseukat, dan lainnya. Jadi, tidak hanya melulu dengan acara kenduri apam, atau dalam istilah lain, hanya apam yang terus dipromosikan. Yang sangat penting adalah setiap jenis makanan atau kuliner tradisional Pidie tersebut ditampilkan ke khalayak, bila perlu disertai juga dengan atraksi atau proses pembuatannya.

Acara seperti ini secara tak langsung sudah memotivasi ibu-ibu atau bapak-bapak yang selama ini masih setia dalam membuat kuliner tradisional. Di samping itu, melalui acara semacam ini para generasi sekarang bertambah wawasannya dan sekaligus akan bangga terhadap produk daerah asalnya, Pidie.

Kemudian, bagi pembuat empieng breuh sudah saatnya mengemas produknya  agar lebih memiliki daya tarik, sehingga bisa dijual ke luar daerah. Banyak penganan luar yang karena kemasannya menarik menjadi rebutan di pasar, padahal isinya tidak semenarik di kemasan. Pemerintah tingkat gampong yang warganya punya usaha empieng breuh, layak juga mengalokasikan secuil dana APBG-nya untuk menggalakkan produksi empieng breuh. Bisa berupa pemberian modal atau insentif kepada mereka atas upayanya merawat warisan sosial Pidie, yaitu makanan tradisional yang bernam empieng breuh. Nyan ban!


**

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul ‘Empieng Breuh’, Kuliner Pidie yang Kian Terpinggirkan, 

Mengenal Halua Bluek, Kuliner Khas dari Pidie Asli dari Masyarakat Bluek

SEBAGAI daerah yang sudah terbentuk sejak sebelum kemerdekaan, Pidie terkenal dengan ragam adat dan budayanya. Mulai dari adat yang berkaitan dengan kepercayaan (seperti khanduri Blang, Khanduri tulak bala, dll), adat yang berkaitan dengan keagamaan (peusijuek, mulod, dll) sampai dengan adat yang berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari.

Namun siapa yang menyangka, jika daerah penghasil tokoh-tokoh berpengaruh di Aceh dan Indonesia ini seperti Tgk. Chiek di Tiro, Tgk Dauh Beureueh, Hasan di Tiro, Aly Hasjmy, juga memiliki ragam makanan khas yang tentunya berbeda dan tidak sama dengan daerah lainnya.

Sederetan makanan khas Pidie antara lain yaitu Emping melinjo, Apam, Timphan, Beureune dan Halua Bluek. Untuk katagori makanan yang pertama sampai ketiga Emping, Apam dan Timphan mungkin sudah menjadi hal yang sangat familiar di telinga anda semua khususnya ditelinga warga Pidie sendiri. Sebab, ketiga makanan tersebut sudah lazim di promosikan dalam acara-acara besar, semisal ketika menyambut tamu dari luar daerah Pidie.

Sedangkan untuk kedua makanan yang tersebut di akhir –Beureunee dan Halua Bluek—saya yakin masih banyak sekali yang belum mengenalinya. Bahkan, (mungkin) warga Pidie sendiri juga tidak mengetahui bahwa kedua makan tersebut Beureunee dan Halua Bluek merupakan makanan khas Pidie.

Beureune (sering juga disebut Sagu Beureune) merupakan makanan tradisional yang dibuat dari hasil olahan pohon sagu, digonseng, kemudian dipilah-pilang dengan bantuan Tampi (Aceh; Jeu-ee) hingga berbentuk butiran-butiran kecil seukuran biji kacang hijau. Sedangkan Halua terbuat dari bahan baku dasar tepung ketan, tepung gandung, gula dan santan. Tekstur mirip dengan kue dodol. Namun dari segi warnanya yang berbeda, Halua berwarna merah pekat dan padat.

Halua Bluek.

Beureune dan Halua Bluek merupakan makanan khas Pidie, yang hari ini gaungnya sudah kurang dikenal oleh masyarakat. Masyarakat hari ini, terlebih (mungkin) karena masuknya nilai-nilai global beserta makanan-makanan yang bersifat global seperti KFC dan Pizza, yang kesannya memiliki prestis yang lebih tinggi jika menyantapnya menjadikan makanan lokal terabaikan. Sehingga makanan daerah seperti Beureune dan Halua Bluek  tersebut kian terpinggirkan.

Tentu ini merupakan sesuatu yang ironis, karena jika sikap tersebut dipertahankan bisa saja atau memungkinkan makanan khas daerah itu hilang dari peredaran dan menjadi kenangan di masa depan.

Nah, tersebab itu pula, dalam artikel ini, saya berkeinginan untuk menyebarluaskan suatu pengetahuan mengenai salah satu makanan khas Pidie, yaitu Halua Bluek. Sedangkan untuk Beureune biarkan lain kali saja saya tulis.

Produksi Asli Masyarakat Bluek

Halua Bluek, merupakan salah satu makanan khas Pidie yang hanya diproduksi oleh masyarakat yang bertempat di mukim Bluek, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie, Aceh. Mukim Bluek terdiri dari puluhan desa yang terbagi kedalam tiga kemesjidan: kemesjidan Bluek Grong-Grong, kemesjidan Bluek Gle Cut, dan kemesjidan Bluek Ulee Gampong.

Belakangan ini masyarakat yang memiliki skill dalam membuat Halua Bluek terkonsentrasi di desa Bluek Balee Baroh (juga dikenal dengan nama Bluek Halua) dan di desa Bluek Lamreuneung. Kalaupun di berbagai desa lain dijumpai warga yang mampu membuat Halua Bluek, maka dipastikan warga tersebut berasal atau pindahan dari kedua desa tersebut.

Halua Bluek sebagaimana saya sebutkan diawal, terbuat dari tepung terigu, tepun ketan, santan, gula dan air mineral. Halua Bluek hampir sama dan mirip dengan makanan khas Aceh lainnya, yaitu dodol. Hanya saja perbedaannya adalah pada tekstur dan warnanya. Jika dodol tekturnya agak lembut dan agar cair serta bewarna kuning cerah, maka Halua Bluek tekturnya agak lebih keras dan warnanya agak kuning kemerah-merahan.

Dilihat sepintas, antara dodol dan Halua Bluek tidak ada perbedaan sama sekali. Namun ketika mendekatinya (menyentuh atau memakannya) baru diketahui antara dodol dan Halua Bluek memang memiliki perbedaan.

Dari segi pembuatan atau cara memasaknya, Halua Bluek tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang. Untuk memasak Halua Bluek membutuhkan tehnik khusus dan harus orang yang cukup berpengalaman. Jika tidak, Halua Bluek tersebut akan menjadi sesuatu yang lain, yang tak bisa dimakan.

Ini dikarenakan dalam memasak Halua Bluek, dilakukan dalam bejana yang besar, kemudian harus ada satu orang yang mengaduknya secara berkala. Sembari di aduk, ditambahkan santan atau tepung dengan takaran yang sudah ditentukan.

Tak jarang, karena dimasak oleh bukan ahlinya atau belum berpengalaman, Halua Bluek menjadi makanan yang gagal; tak bisa dimakan. Kemudian ada juga kejadian, meskipun dimasak oleh orang berpengalaman, namun Halua Blueknya tidak sesuai dengan harapan, karena teksturnya lembek seperti dodol.

Untuk itu pula, lazimnya seorang ahli masak Halua Bluek, jauh-jauh hari mereka akan mencari kelapa khusus untuk diparut dan diambil santannya. Mereka menyebutnya dengan istilah ‘u  bungong jeumpa’. Setelah didapati kelapanya akan di simpan dulu, sampai kemudian pada waktu tertentu baru kelapanya di belah dan diparut untuk diambil santannya.

Memasak Halua Bluek memang boleh di sembarang waktu, misalnya tanpa terikat sanksi atau adat tertentu. Namun demikian, bagi masyarakat Pidie memasak Halua Bluek punya hari-hari khusus juga. Seperti pada hari-hari besar dalam Islam, dan pada hari-hari pekan rakyat. Namun demikian, masyarakat Pidie umumnya memasak Halua Bluek saat tibanya hari Megang Puasa dan Megang Lebaran.

Skill Warisan Turun-temurun

Yang uniknya lagi, skill memasak Halua Bluek ini ternyata hanya dimiliki oleh sekelompok masyarakat yang ada di Pidie saja, yaitu masyarakat yang berada di kemukiman Bluek. Sedangkan masyarakat yang diluar teritorial mukim Bluek sangat jarang didapati yang mampu memasak Halua Bluek. Kecuali memiliki hubungan keluarga dekat dengan warga mukim Bluek.

Konon, menurut beberapa tetua gampong yang ada di Bluek menjelaskan bahwa, skill memasak Halua Bluek yang dimiliki oleh masyarakat di mukim Bluek merupakan sebuah warisan yang didapatkan secara turun temurun. Jauh sebelum Nusantara ini merdeka dari penjajahan bangsa Kolonial, masyarakat di mukim Bluek sudah memiliki aktivitas memasak Halua Bluek. Sehingga kebanyakan masyarakat di Pidie juga menyebut Halua Bluek dengan nama Halua Bluek Bluek ada nama daerah pembuatnya di ujung.

Namun sayangnya, eksistensi Halua Bluek semakin tergerus oleh masa. Disamping tehnik produksi Halua Bluek masih bersifat tradisional dan kecintaan masyarakat terhadap makanan daerah (lokalnya) yang semakin menipis, eksistensi Halua Bluek kini semakin tenggelam. Untuk itu pula, peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam menjaga salah satu warisan budaya agar terus berkembang dan menjadi kebanggaan daerah.

***

Artikel ini sudah ditayang di media BeulangongTanoh.